Link Pelayanan Online
omspan
e-rekon2016
hai-djpbn
setor pajak online
setor pnbp online
#SadarAPBN
#SadarAPBN
Link Tautan
Traffic Web

Pages

Pages|Hits |Unique

  • 24 jam terakhir: 0
  • 7 hari terakhir: 0
  • Bulan ini: 0
  • Sedang online: 0

Pada tahun 1990, wahana antariksa nirawak Voyager I , yang digunakan sebagai penjelajah luar angkasa untuk menyelidiki saturnus dan Jupiter, berada di jarak 6 miliar kilometer dari Bumi, dikendalikan oleh NASA agar memutar kameranya ke arah Bumi dan memotretnya di tengah jagad raya. Tampak di foto tersebut, dari perbatasan tata surya, ukuran bumi hanyalah 0.12 pixel, sebuah titik biru pucat di antara gelapnya angkasa.

Dari gambar dan jarak sejauh itu bumi tidak terlihat penting. Namun untuk kita, di titik biru pucat itulah ada manusia, ada kita.
Itulah “rumah”. Sampai saat ini, tinggal di dunia lain, di planet lain masih merupakan sebuah mimpi, sebuah gagasan, sebuah teori, sebuah karya fiksi ilmiah. Tidak ada pilihan lain untuk umat manusia, tanpa kecuali, untuk menjaga dan memelihara planet ini, berhenti menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi, bersikap lebih baik kepada satu sama lain. Kecanggihan perkembangan teknologi tanpa kearifan dalam menggunakannya melenggangkan jalan pasti menuju kehancuran. Kehancuran moral, lingkungan, dan permukaan bumi. Kita bertanggung jawab atas planet ini, dan atas segala kerusakan yang dibuat kita harus memperbaikinya dan membuat pelestarian dan perawatan lingkungan menjadi budaya yang diteruskan kepada keturunan kita.

Menanamkan budaya peduli lingkungan hidup dan alam sekitar kita, dapat dimulai dari mana saja, tentu yang paling penting adalah diri sendiri. Saat waktu kita habiskan sebagian besar di kantor untuk bekerja, maka menjadi penting untuk menanamkan budaya kepedulian kita terhadap pelestarian lingkungan hidup di lingkungan kantor. Di Indonesia kesadaran atas adanya suatu Green Office dimulai dari Inpres Nomor 13 Tahun 2011 mengenai penghematan energi dan air, suatu langkah yang, bisa kita bilang terlambat, jika dibandingkan dengan keharusan kita merawat lingkungan hidup itupun masih dalam satu sisi yakni penghematan. Seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Itikad baik yang dituangkan dalam instruksi presiden tersebut sudah sepantasnyalah dilaksanakan oleh berbagai institusi pemerintahan yang harapannya kegiatan tersebut diteladani oleh segenap lapisan masyarakat.

Sebagai suatu organisasi yang mengurusi keuangan dan kekayaan negara sudah sepantasnyalah Kementerian Keuangan mengadopsi budaya peduli lingkungan dalam pelaksanaan kegiatannya sehari-hari. Penghematan kertas, penggunaan kembali kertas yang sudah dipakai, dan digitalisasi dokumen adalah upaya-upaya yang ditujukan utamanya sebagai penghematan anggaran namun dalam gambar yang lebih besar upaya tersebut adalah praktek dari usaha untuk melestarikan lingkungan dan memelihara bumi. Direktorat Jenderal Perbendaharaan adalah unit eselon I dibawah Kementerian Keuangan yang menangani masalah pelaksanaan anggaran, pelaporan keuangan, serta pengelolaan kas dan lain-lain telah mengusung konsep kantor yang hijau, suatu konsep tentang lingkungan kantor yang ramah lingkungan, sejak penerapan sistem MPN G2 dan SPAN agar segala proses administrasi pengelolaan pemasukan, pendapatan, pengeluaran, dan pelaporan anggaran dilakukan secara elektronik dan karenanya penggunaan kertas jauh lebih berkurang. Berbagai surat untuk menghimbau penghematan penggunaan listrik, air, dan telepon telah diterbitkan oleh Kantor Pusat DJPBN agar dilaksanakan setiap unit perbendaharaan baik kantor vertikal maupun kantor pusat.

Pada Tahun 2017, dicanangkan gerakan perbendaharaan Go Green sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE- 18/PB/2017 tentang Program Perbendaharaan Go Green di Lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Pencanangan gerakan Perbendaharaan Go Green ini secara simbolis ditandai dengan penyerahan pohon tanjung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk ditanam di Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat, Bandung, berdekatan dengan Museum Perbendaharaan. Program semacam ini menunjukkan bahwa Ditjen Perbendaharaan tidak hanya berorientasi pada pencapaian target-target kerja yang diemban, tetapi juga menunjukkan perhatian kepada aspek penunjang kualitas kinerja aparatur, serta mewujudkan upaya nyata untuk penghematan demi meningkatkan efisiensi belanja pemerintah dan
pelestarian lingkungan.

KPPN Metro telah dan akan terus melaksanakan konsep kantor hijau yang ramah lingkungan sebagai perwujudan upaya efisiensi belanja negara dan pelestarian alam. Penghijauan halaman kantor dan rumah dinas, manajemen sampah yang baik, penghematan penggunaan kertas dan listrik adalah contoh nyata penerapan konsep kantor hijau pada KPPN Metro. Penerapan tersebut sejalan dengan program Perbendaharaan Go Green dari Kantor Pusat DJPBN. Konsep kantor hijau ini diharapkan diikuti oleh para pemangku kepentingan KPPN Metro utamanya unit satuan kerja kantor vertikal Kementerian/Lembaga. Program Perbendaharaan Go Green ini juga diharapkan untuk menunjukkan eksistensi KPPN Metro sebagai kantor unit vertikal yang mempelopori usaha penghematan anggaran dan pelestarian lingkungan di pemerintahan, baik pusat maupun
daerah, di wilayah kerja KPPN Metro.

“Small things matter. Bayangkan jika titik lampu di satu ruangan dikurangi, berapa banyak listrik yang bisa dihemat kalau seluruh kantor melakukannya. Tidak akan ada yang sia-sia. Dengan penghematan yang kita lakukan artinya kita menabung untuk anak cucu kita, termasuk bisa mengurangi polusi,” dalam arahannya Menteri Keuangan Sri Mulyani ikut menyatakan dukungan akan Perbendaharaan Go Green.

Humas KPPN Metro, 05 Mei 2017

156 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*